Minggu, 25 Maret 2012

Cut Nyak Dhien Museum === mukhtarsuci Pasie Raya

Cut Nyak Dhien Museum By : Mukhtar Pasie Raya

Pada awalnya, Museum Cut Nyak Dhien adalah tempat tinggal pahlawan wanita ternama. Di dalamnya berisi koleksi sejarah Aceh yang dikelola dan dirawat oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Besar. Hanya pondasi dari bangunan ini yang asli, sedangkan yang berdiri sekarang ini adalah hasil renovasi bangunan yang sebelumnya telah dibakar oleh Belanda.
The Cut Nyak Dhien museum had the shape of the traditional Acehinese house (rumoh Aceh), was the replica of the Aceh heroine house, Cut Nyak Dhien. At first this house was the heroine’s residence Cut Nyak Dhien. In the Acehinese War era, this house could be burnt by the Dutch troops (1893) that afterwards was built again at the start the year 1980an and was made the museum. The foundation of this building was still original.
Cut Nyak Dhien was a woman hero of the Acehinese who was courageous. She was born in Lampadang in 1848, and married in the age twelve years. During 1878 her first husband, Ibrahim Lamnga died because of being shot in a battle against the Netherlands. Two years afterwards, a man named Teuku Umar came to the Cut Nyak Dhien family to propose married her. Personally, Cut Nyak Dhien was prepared to accept his application provided that Teuku Umar accepted her request, that is if marrying him so that he is permitted to be with her husband warrng against the Netherlands. The Cut Nyak Dhien request was accepted by Teuku Umar and during 1880 they then married. As a wife, she was loyal and always supported the struggle for her husband.
The dark incident happened during 1899, Teuku Umar died because of being shot with gold bullets by the Dutch troops. Finally, Cut Nyak Dhien took over her husband’s leadership. While six years fought with her child of Cut Gambang, to lead troops, to apply the guerrilla warfare strategy and to live with her troops in the forest. Finally, in her age that at dusk with her dim eyes was comprehended by the Dutch troops in the forest and was isolated to the Sumedang Regency, West Java. On November 6 1908 she died and was buried in the Puyuh Mountain, Sumedang.
Visited to the Cut Nyak Dhien museum, the visitor could recall courage dan heroism a person of famous heroine Aceh in the struggle to maintain the homeland from the Dutch colonisation. This museum had the values of the history, the culture and typical Aceh architecture. Inside was gotten by proof and history objects, the Cut Nyak Dhien legacy collection and Teuku Umar.
The location of the museum was on the west of Banda Aceh-Lhok Nga, in the area of rural areas with the green paddy-field carpet, to be precise in the Lampisang Village, Lhok Nga, Aceh Besar.
The distance of the museum with the Banda Aceh city, approximately 6 km. From the Banda Aceh City could be followed by the personal vehicle in time approximately 10 minutes. If get the public’s transport named labi-labi the Aceh Market-Lhoknga route could be followed approximately 20 minutes
———
Nangroe Aceh Darussalam adalah salah satu provinsi yang ada di Indonesia. Di sana, tepatnya di Desa Lampisang, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar ada sebuah museum yang namanya diambilkan dari pejuang wanita Aceh, yaitu Cut Nyak Dhien. Dari pusat Kota Banda Aceh (ibukota provinsi) jaraknya sekitar 6 kilometer. Oleh karena lokasinya yang dekat dengan kota Banda Aceh, maka untuk mencapai museum ini relatif mudah, baik dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun umum jenis “labi-labi” (angkot) jurusan Pasar Aceh-Lhoknga.
Bentuk Bangunan dan Koleksi
Museum yang bangunannya berbentuk rumah tradisional Aceh ini pada mulanya adalah rumah pribadi dari seorang pejuang wanita Aceh yang diangkat menjadi pahlawan nasional Indonesia, yaitu Cut Nyak Dhien. Pada tahun 1893 saat terjadi Perang Aceh, rumah ini sempat dibakar oleh tentara Belanda hingga tinggal fondasinya saja yang tersisa. Setelah Indonesia merdeka, tepatnya sekitar permulaan tahun 1980-an, bekas rumah yang hanya tinggal fondasinya itu baru mulai “dilirik” oleh pemerintah untuk dibangun kembali dan dijadikan sebagai sebuah museum.
Tujuan pembangunan museum, selain untuk mengenang jasa-jasa Cut Nyak Dhien dalam mempertahankan tanah air dari penjajahan Belanda, juga dijadikan sebagai aset wisata bagi Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Di dalam museum ini terdapat berbagai benda bersejarah peninggalan Cut Nyak Dhien dan suaminya Teuku Umar ketika mereka sama-sama berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah kelahirannya.
Riwayat Singkat Cut Nyak Dhien
Cut Nyak Dhien lahir di Lampadang pada tahun 1848. Ia adalah puteri dari Teuku Nanta Setia, seorang uleebalang VI Mukim yang masih keturunan dari Machmoed Sati, perantau dari Sumatera Barat. Sedangkan, ibunya adalah puteri dari uleebalang Lampagar. Pada tahun 1862, saat usianya baru menginjak 12 tahun, ia sudah dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, putera dari uleebalang Lamnga XIII. Namun, perkawinan itu hanya berlangsung selama 16 tahun karena pada tanggal 29 Juni 1878 Teuku Cek Ibrahim Lamnga gugur dalam pertempuran melawan pasukan Belanda di daerah Gle Tarum. Kematian Teuku Cek Ibrahim Lamnga begitu menyakitkan hati Cut Nya Dhien sehingga ia marah dan bersumpah akan menuntut balas pada pasukan Belanda. Ia pun kemudian mulai melakukan perlawanan terhadap Kapke Ulanda (Belanda kafir).
Setelah dua tahun menjanda, ia mendapat lamaran lagi dari tokoh pejuang Aceh lainnya, yaitu Teuku Umar. Awalnya ia menolak, namun karena Teuku Umar mempersilahkannya untuk ikut bertempur, akhirnya ia menerimanya. Pernikahan pun dilakukan pada tahun 1880. Dari pernikahan dengan Teuku Umar ini ia dikaruniai seorang anak yang bernama Cut Gambang.
Perkawinannya yang keduanya juga singkat (sekitar 19 tahun), karena Teuku Umar gugur dalam pertempuran melawan pasukan Belanda di Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899. Cut Nyak Dhien bersama Cut Gambang kemudian memimpin pasukan Teuku Umar melakukan perlawanan secara gerilya terhadap Kapke Ulanda yang sangat dibencinya. Selama enam tahun ia berjuang bersama pasukannya hingga akhirnya ditangkap oleh Belanda lalu diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat. Dan, pada tanggal 6 November 1908 pejuang wanita yang gigih dan berani ini meninggal dan dikebumikan di daerah Gunung Puyuh, Kabupaten Sumedang. Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 2 Mei 1964 Cut Nyak Dhien resmi dinobatkan oleh pemerintah menjadi Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No. 106 Tahun 1964.
Museums , , ,

Related Listing

Place Your Review

Rate this place by clicking a star below :
0 rating

Tidak ada komentar:

Posting Komentar